Belakangan ini saya kerap
mendapatkan kabar tentang orang-orang yang ditinggal pergi oleh ibu mereka
untuk selama-lamanya menghadap Yang Maha Kuasa. Contohnya ialah kematian ibu
dari teman SMA saya, atau ibu dari teman sesama penulis. Kalau boleh saya
jujur, setiap kali saya mendengar atau menyaksikan seseorang yang ibunya
meninggal, saya jadi ingat tentang salah satu hal yang paling saya takuti dalam
hidup ini, yaitu menghadapi kematian orangtua, terutama Ibu.
Tadi sore pada pukul
14:54, saya menerima telepon dari seorang tetangga, yang mengabarkan kepada
saya tentang sebuah kematian. Saya terperanjat mendengarnya, hampir tidak
percaya, dengan napas tertahan. Nenek saya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa,
beberapa menit sebelum kabar duka ini saya terima. Beberapa saat kemudian,
suara ibu saya mengambil alih, untuk berbicara kepada saya (rupanya tetangga
saya sedang berada di rumah saya, untuk menghibur ibu saya).
Suara Mama, begitu saya
memanggil ibu saya, terdengar begitu lirih dan terbata, sehingga saya seolah
dapat merasakan duka yang sedang ia alami. Mama memberitahu saya bahwa ia harus segera
menuju Madiun, kampung halamannya, di mana almarhumah Nenek sudah menunggunya
di sana. Saya tak sadar sudah menutup sambungan telepon, dan beragam kenangan
bersama Nenek berkelebatan cepat di kepala saya. Hati ini seperti tertusuk oleh
entah apa. Meski tidak ada air mata menuruni kedua pipi ini, namun saya
seolah-olah dapat merasakan empati yang begitu besar terhadap Mama.
Saya adalah anak sulung
dari empat bersaudara. Dan saya adalah anak yang paling dekat dengan Mama,
sudah pasti saya yang paling memahami perasaannya. Dia sering curhat tentang
apa saja kepada saya. Begitu juga sebaliknya, saya lumayan sering bercerita
kepadanya.
Pada suatu malam, tak
sengaja saya melihat uban mulai menyemak di rambut Mama. Dan untuk sejenak saya
berpikir, alangkah panjangnya perjalanan hidup ini. Mama sudah menua, tak
semuda dulu, kala saya masih sering menggambar dengan krayon dan rajin nonton
Doraemon. Tapi saya yakin, pelukan Mama masih sehangat dulu.
***
Saat duduk di kelas empat
SD, saya pernah mengalami kecelakaan kecil. Sepeda yang saya kendarai
diserempet motor. Lutut saya lecet, tapi saya cengeng. Saya terisak, dan takut
diomeli oleh orang-orang dewasa yang saya pikir akan menganggap saya tidak
hati-hati mengendarai sepeda. Orang-orang mengerumuni saya, menanyakan di mana
alamat saya. Tak lama kemudian Mama datang sambil menangis dan memeluk saya erat.
Di pelukannya itulah saya tumpahkan air mata seorang bocah lelaki yang mengadu
kepada ibunya. Ada kehangatan yang menjalar ke sekujur saya, dan berubah
menjadi kekuatan. Kekuatan itu tidak saya kenali namanya, namun saya
meyakininya.
“Sudah, jangan menangis
lagi. Ayo Mama antar kamu untuk periksa ke Dokter….”
Ah, alangkah indahnya
mengenang kehangatan sebuah keluarga di masa kecil. Dulu Mama dan Bapak (saya
tidak memanggil ayah saya dengan sebutan Papa), sering mengajak saya mengikuti
lomba menggambar, dan membelikan saya peralatan menggambar.
Kini semuanya hampir
memiliki banyak perubahan. Ketika saya sedang jatuh terpuruk didera
permasalahan hidup, saya tidak menunjukkan air mata kepada Mama, meskipun saya
yakin, intuisi seorang ibu sangatlah tajam. Tak jarang ia bertanya semisal ini,
“Lagi ada masalah, ya…? Cerita dong ke Mama….” yang biasanya langsung saya
balas dengan senyuman kecut atau gelengan kepala. Jika saya membohongi Mama,
saya tidak berani menatap matanya.
Namun kekompakan hati itu
seolah masih terjaga dengan kuat sampai sekarang. Mama adalah ibu yang memiliki
selera humor yang kuat, dan itu yang membuat saya menilai dia unik. Mama adalah
pekerja keras, seorang Cancer yang setia kawan, dan emosional. Jika ada hal
yang lucu sedikit saja, dia langsung tertawa terbahak-bahak. Tak jarang ia
menertawakan kesedihan. Namun ia juga menangis tersedu-sedu sampai kehilangan
selera makannya selama berhari-hari, ketika ayah saya meninggal dunia pada
tahun 2010. Tapi jangan salah, Mama adalah perempuan kuat, makhluk hebat.
Pekerjaan yang dilakukan oleh lelaki, ia sanggup mengerjakannya. Bahkan, Mama
dan Nenek memiliki satu kesamaan; sering menggaruk tubuhnya dengan sisir atau
sisi pisau yang tumpul. Agak aneh, tapi nyata dan ada.
***
Hari ini hujan turun
dengan deras, sesekali gerimis namun awet. Saya masih berada di meja kantor
saat tulisan ini sedang saya selesaikan. Saya membayangkan Mama berurai air
mata saat perjalanannya menuju Madiun. Jarak yang ia belah dengan kesedihan dan
kenangan manis dengan ibunya. Saya berdoa agar Nenek diberikan tempat terbaik di
sisi-Nya. Mama diberikan ketabahan dan kekuatan. Dan di sisa hidup saya ini,
saya senantiasa diberikan kesanggupan untuk membahagiakan hati Mama. Aamiin.
Posted by Unknown in Diary Dhika
2 comments
Malam ini udara menyebarkan hawa dingin hingga membuat
sweater yang kukenakan nyaris tidak
ada gunanya sama sekali. Maklum, hampir sepanjang hari ini Jakarta diguyur
hujan yang meski tidak dihiasi petir, namun tak kunjung reda.
Aku
bersyukur hujan tidak mengguyurku saat pulang ke rumah saat ini. Tanpa sadar,
aku menggigil dan masih terus melangkahkan kaki dengan tangan bersidekap di
dada, kepala agak kutundukkan.
Seperti
biasa, perkampungan tempatku tinggal selalu dihiasi anak-anak kecil yang
duduk-duduk manis bersama-sama di bangku kayu panjang berlapis kardus yang
menjadi penghias gapura di muka gang. Ada juga seorang ibu yang sengaja
menjegat pedagang sekoteng, demi sekedar menghangatkan badan.
Seperti
api lilin di gerobak sekoteng yang berpendar melawan dinginnya malam setelah
hujan, tubuh yang menggigil ini seperti dialiri energi begitu dihempas peluk
dan cium pipi kanan-kiri dari kedua adikku yang masih kecil-kecil. Yang sulung,
Nisa, usianya enam tahun. Dan si bungsu, Fikri, usianya tiga tahun. Kedua bocah
ajaib ini sangat manja kepadaku.
“Bang
Ilham pulang!!! Hore…, Bang Ilham pulang!!!” seru Fikri senang, menyebut-nyebut namaku.
“Jajan
dong nih…? Kata Ibu, Abang gajian hari ini!” celetuk Nisa getol.
“Tapi
Abang mau mandi dan sholat dulu ya. Badan Abang udah bau ayam kampung nih!”
“Huuuuh…,”
Nisa cemberut manja.
“Nisa,
Fikri, biarin kakak kalian mandi dulu. Nanti kalian juga jadi diajak ke warung,”
kata ibuku yang muncul dari dalam kamarnya, menyadari kegaduhan kecil ini.
Mereka menuruti perkataan Ibu.
Aku
mencium tangan Ibu. Ibu lalu menoleh ke arah adikku selain Nisa dan Fikri.
Dialah Fina, adik pertamaku yang sudah duduk di bangku SMA. Fina yang sedang
asyik-asyikan nonton film di tv tanpa sedikit pun menghiraukan kedatanganku,
sontak menoleh ketika Ibu menyebut namanya.
“Fin…
masakin air panas, tuh, buat kakakmu. Biar dia mandi air hangat, kasihan pasti
kedinginan karena hujan.”
“Ya.”
Dengan agak malas-malasan, Fina pun bangkit dari sofa, dan berjalan menuju
dapur.
Aku
menghempaskan pantat di kursi butut ruang tamu ini. Lelah rasanya setelah
seharian bekerja, menghabiskan masa mudaku di Percetakan Amanah, sebuah
percetakan sederhana yang dinaungi penerbitan buku-buku pelajaran sekolah,
khususnya TK dan SD. Kerjaku menyusun dan merunut halaman demi halaman dari
tiap-tiap lembar yang akan dirapikan di mesin. Atau mengangkuti tumpukan
buku-buku yang sudah jadi menuju mobil milik percetakan, yang biasanya
mengantar langsung buku-buku itu untuk didistribusikan ke daerah-daerah. Seharian
aku duduk di meja bersama lima orang staf senasib-sepenanggungan lainnya,
menahan gerah dan pegal di punggung, dan baru merasakan sejuk di saat jam
istirahat yang selalu digunakan untuk makan dan sholat.
Ajaibnya,
tempatku bekerja yang semula kusetarakan dengan tempat fotokopi atau warnet,
yang dengan seenaknya saja bagi karyawannya untuk hanya memakai sandal jepit
dan kaos oblong, di tempat ini justru tidak. Kami seolah harus terlihat elit
bagi orang-orang luar yang melihat. Bayangkan, kami harus memakai sepatu.
Begitu
aku tersadar dari buaian lamunanku, ada wajah Ibu yang menyiratkan rasa
penasaran.
“Kok
melamun? Cepatlah mandi....”
Aku
bangun dari tempatku duduk.
“Bang…
air panasnya udah siap nih!!!” teriak Fani dari dalam.
“Iya....”
sahutku.
“Oh
iya Ilham,” panggil ibuku tiba-tiba. “Nanti selesai sholat, ibu mau ngomong
sama kamu.”
***
Aku
sudah duduk di meja makan. Rambutku masih menebar aroma shampo karena baru saja
mandi dan sholat. Semangkuk mie rebus rasa ayam bawang terhidang di hadapanku.
Dihiasi telur dan irisan cabe rawit. Ditambah sedikit nasi dan segelas besar
teh manis panas. Beginilah keluarga kami. Sederhana, tapi tetap terasa mewah
andai kau melihatnya disertai rasa syukur.
“Katanya
Ibu mau ngomong,” celetuk bibirku di sela-sela kegiatan makan ini.
Aku
berkata begitu karena sejak tadi ekor mataku menangkap Ibu yang memandangiku
dari seberang meja, walau kutahu dia sedang menyisir.
“Makan
dulu saja, lah. Ini bukan hal baru buat kamu.”
“Nggak
pa-pa, bilang aja,” desakku tak sabar sebelum kuhirup hati-hati teh manis yang
masih mengepul itu. “Kalo Ilham bisa bantu, Ilham bantu kok Bu,” kataku.
Ibu
diam sebentar, dan malah menggumam: “Kapan ya, Ilham, kita sekeluarga terbebas
dari kesusahan hidup ini… Kalau aja Bapak masih sehat dan nggak sakit-sakitan,
mungkin kamu bisa kuliah dan bukan malah kerja bantuin adik-adik kamu!”
Aku
justru tersenyum mendengarnya.
“Justru
kesusahan ini harus kita anggap sebagai ujian dari Allah. Yang musti kita
jadiin motivasi supaya kita bisa mengubahnya menjadi kemudahan. Batu di tengah
jalan nggak akan bisa bikin langkah kita terhenti karena kita bisa
menyingkirkannya ke tepi. Lagian kadang aku ngerasa bangga juga kok bisa
nyekolahin Fina dan Nisa. Aku jadi tau gimana susahnya cari duit.”
Kenyataannya
pribadiku bertentangan dengan apa yang kuucapkan barusan. Aku yang mudah bad mood, dan sering mengecilkan diri sendiri,
bisa bicara seperti ini kepada ibuku. Dan ketahuilah, ibuku, mungkin engkaulah
satu-satunya orang yang membuatku mendadak menjadi kuat bagaikan tombak yang
kokoh, mendadak selalu berpikir positif dan yakin aku bisa melewati ini semua.
“Minggu
depan Fina harus melunasi SPP-nya selama tiga bulan. Empat ratus delapan puluh
ribu. Belum lagi bulan depan mesti ikut bimbel, empat ratus ribu. Heran, dunia
pendidikan kita kok seperti ini, ya. Apa sekolah gratis itu hanya ada di negeri
dongeng? Negeri impian?”
“Ya
udah, Ilham habisin makan dulu ya, Bu. Ibu tenang aja, SPP Fina biar Ilham yang
ngurusi,” sahutku enteng.
Sepuluh
menit sesudahnya, setelah aku menggosok gigi, kusibak tirai merah tua bergambar
angsa terbang di ambang pintu kamar Ibu, dan kuhampiri dia yang sedang duduk di
tepi pembaringan sambil memperhatikan dengan saksama kalender meja di
tangannya. Ada ayahku yang masih pulas tertidur di belakang tubuh Ibu. Kasihan,
walau kesehatannya sudah mulai membaik, tapi dia masih terlihat lesu karena
penyakit ginjal yang dialaminya. Aku duduk di sebelah Ibu dan kuserahkan amplop
putih yang sejak tadi kupegang untuknya.
“Buat
SPP Fina. Sama nebus obat buat Ayah.”
Ibu
terlihat seperti tidak enak dan kasihan kepadaku.
“Ilham!
Ini… semua? Semua?”
“Lho,
kenapa? Cukup kan, kalau untuk SPP Fina sama obat buat Ayah?”
“Iya
sih…” Ibu garuk-garuk kepala. “Tapi sisanya… kamu nggak pegang?”
“Nggak
usah sekarang juga nggak pa-pa, Bu.”
“Tapi
kan Ibu dengar-dengar kamu lagi ngumpulin uang buat beli sesuatu…?”
“Bulan
depan juga bisa, lah, Bu. Nggak penting-penting banget kok.”
“Terima
kasih ya, Ilham.”
“Iya
Bu. Ya udah, Ilham ajak si Nisa dan Fikri jajan ke warung ya.”
“Ya,
ingat jangan terlalu manjain mereka. Jajan secukupnya aja. Ingat, kita harus
prihatin!”
Aku
hanya membalas perkataan itu dengan senyuman.
***
Seminggu
kemudian aku terlihat sumringah. Pasalnya, Ibu memberitahuku bahwa ternyata
biaya bimbingan belajar Fina bisa dicicil! Alhamdulillah…! Apa bukan berita
gembira namanya? Yang lebih menggembirakan lagi, aku mendapat bonus bulanan dari
tempat kerjaku. Seratus lima puluh ribu rupiah. Alhamdulillah, rejeki tak
terduga setelah aku berurusan dengan SPP Fina yang menguras seluruh gajiku
nyaris tanpa sisa, kecuali tiga lembar uang dua ribuan dan beberapa keping lima
ratusan.
Pulang
kerja aku mampir ke mal di mana selama dua bulan ini aku memendam keinginanku
yang paling rahasia untuk membeli sebuah sepatu. Untuk ukuran cowok muda yang
penampilannya tidak modis dan cenderung cuek sepertiku, sepatu itu lumayan
keren bagiku. Apalagi sedang diskon gede-gedean, yang tadinya seharga tiga ratus
ribu rupiah, kini sepatu itu bisa kugondol ke rumah dengan uang seratus lima
puluh ribu rupiah.
Bukannya
aku sok-sokan kepingin terlihat gaya. Tapi di samping memiliki keinginan untuk
beli sepatu itu, memang kenyataannya aku butuh sepatu saat ini! Pasalnya, tiap
hari aku harus selalu menekuk kelingking kaki kananku agar kaos kaki putihku
tidak melongok keluar dari tepi sepatu kananku yang bolong! Kalau lagi
keasyikan bengong sambil jalan kaki, ada saja mata-mata usil yang melirik
kelingkingku yang dilapisi kaos kaki seputih salju ini. Senyum mereka itu lho,
duh, bikin gondok saja!
“Ada
yang bisa dibantu, Mas?” salah seorang pramuniaga toko sepatu itu menghampiriku
di saat aku lagi asyik-asyiknya melamun! Dugaanku, dia sudah hapal raut wajahku
karena selama hampir dua bulan ini aku mondar-mandir terus ke sini hanya untuk
memandang, meraba, dan menimang sepatu-sepatu keren yang di-display di toko sepatu ini, tanpa
membeli!
“Oh…
eh…. Anu, Mas, aku cari sepatu kets yang diskon 50% itu lho, yang warna cokelat!
Kok nggak ada, ya? Padahal kayaknya kemarin…”
“Oh,
yang selalu Mas pandangin terus tiap dateng ke sini?”
Mukaku
sepertinya spontan memerah mendengar ucapannya. “I-iya, kok tau?”
“Tenang
aja, Mas. Kalo Mas nggak buru-buru, besok barangnya dateng kok, karena stoknya
habis hari ini.”
***
Sesampainya
di rumah, aku disambut wajah cemberut Fina. Ada apa? Biasanya dia seperti itu
kalau habis diomeli Ibu. Ibu-lah yang menjawab keheranan di wajahku.
“Ilham,
sepertinya kesabaran kita benar-benar diuji oleh Allah!”
“Ada
apa, Bu?”
Ibuku
menyahut. “Fina kasih pinjam uang untuk teman sekelasnya, seratus ribu rupiah!
Pakai uang cicilan pertama bimbel! Sementara kita baru tahu ternyata cicilan
pertama bimbel harus dilunasi minggu ini! Duh… heran, punya anak kok, punya
rasa kasihan berlebih sama orang lain, sampai mengorbankan diri sendiri! Ingat
Fina, sekarang bukan zamannya jadi pahlawan kesiangan!” Dia menoleh ke Fina.
Fina
menunduk malu. Mengerut di sudut ruangan.
“Ya…,
ya. Mungkin emang bener kali ya, Ilham harus ekstra sabar. Bayar, bayar!” Aku tiba-tiba saja
mengeluarkan dompetku demi mengusir rasa khawatir berlebih Ibu.
Tapi
sesudahnya mereka berdua malah terlihat sedih dan kasihan padaku. Anehnya aku
terlihat seperti orang ngambek. Padahal aku tidak mau seperti itu. Tapi,
mungkin ada benarnya juga, ikhlas seorang anak ada batasnya. Inikah batas
keikhlasanku? Ah, tidak mungkin. Tidak boleh!
“Ilham
nabung buat beli sepatu. Keren modelnya. Diskon, lagi. Sepatu Ilham bolong
parah. Tapi kenapa selalu ada kejadian begini? Kenapa selalu ada kejutan
begitu?” celetukku di antara beningnya sayur bayam yang kusendokkan ke mulut.
“Sabar
ya, Ilham.”
“Tapi
Ilham nggak ngeluh kok, Bu. Ilham nggak mau mentingin diri sendiri. Ilham harus
sabar, Bu.”
“Begini,
Ilham. Kamu menganggap sepatu sebagai
‘kebutuhan’, Atau ‘keinginan’?”
“Maksud
Ibu?”
“Kalau
kamu dikasih sepatu yang bukan selera kamu, tapi berfungsi, kamu mau?”
Aku
belum sempat menjawab ketika Ibu berteriak memanggil nama Fina, menyuruhnya
membongkar sebuah rak tempat sepatu-sepatu bekas, dan menculik sebuah sepatu
berdebu di situ, untuk ditunjukkan di depanku. Dan memang ajaib! Sepatu itu
boleh saja bukan seleraku, tapi setelah dicuci Fina, dalam keadaan belum kering
pun sepatu itu terlihat kuat dan pasti awet! Warnanya hitam, model pantofel. Aku
hanya terbengong takjub. Ajaib! Kenapa harus di waktu yang bersamaan? Inikah
kejutan terbaru dari Allah?
Aku
selalu berpikir aku harus bersabar dan ikhlas dalam menjalankan kehidupan yang
penuh teka-teki ini. Aku selalu berpikir bahwa aku harus siap menerima
ujian-ujian dari-Nya. Tapi…? Pernahkah aku berpikir bahwa kejutan dari Allah
tidak harus berupa cobaan? Satu contoh tentang pelajaran hidup telah aku petik
dari sini. Bahwa aku tidak boleh hanya memikirkan tentang masalah-masalah apa
saja yang kelak akan kami hadapi, namun juga berkah-berkah apa saja yang
menunggu kami kelak. Baik dan buruk hanya sekelumit misteri dari-Nya. Mungkin,
kita cuma perlu berserah diri, bukan malah menunggu sambil mencemaskannya.***
10 Desember 2009
Dimuat di
Koran Satelit News (Radar Tangerang)
Sabtu, 10 Maret 2012
Koran Satelit News (Radar Tangerang)
Sabtu, 10 Maret 2012
Poppy
berlari-lari kecil di sebuah gang kecil yang becek menghampiri sebuah rumah
petak yang tertutup pintunya. Dengan sisa-sisa semangat yang ada dia mengetuk
pintunya dengan pelan, seolah takut mengusik para penghuni di dalamnya. Gadis
cantik itu menggigil kedinginan dengan pakaian yang sedikit basah di sana-sini,
gara-gara terguyur gerimis.
“Poppy?” seorang perempuan berusia empat puluh tahunan
membukakan pintu dan memandangnya dengan iba. “Kamu nggak pulang lagi ke
rumah?”
Perempuan ini adalah Tante Kamila, mamanya Karin,
sahabat Poppy sekaligus teman sekelasnya di kelas XI IPA II di SMU Permata Hati
Bunda. Jelas Tante Kamila bertanya seperti itu karena penasaran sudah tiga hari
ini Poppy selalu datang mengenakan pakaian putih-abu-abunya.
“Tante, maaf ya aku mau ngerepotin lagi…” pinta Poppy memelas.
“Aku mau nginep lagi, Tante. Itu juga kalo Tante ngijinin.”
Tante Kamila menghela nafas iba. Dia tidak berani
menerka apalagi bertanya langsung pada Poppy apa gerangan yang menyebabkannya
ingin menginap di sini, di rumah mungil ini. Sepertinya Karin-lah yang lebih
tepat ditanyai.
“Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu, Poppy…”
***
Malam ini untuk ketiga kalinya Karin membagi tempat
tidur di kamarnya yang sempit untuk ditiduri dirinya dan Poppy, sahabatnya.
Karin iba melihat perubahan drastis dalam diri Poppy.
Sahabatnya yang tajir, kapan pun dan di manapun selalu diiringi tawa
kebahagiaan tanpa sekalipun terbersit di otaknya tentang keprihatinan menjalani
hidup pas-pasan, dan hidup selalu berkecukupan dengan segala pakaian-pakaian
trendy, motor pribadi, serta gadget
yang dia punya, kini gadis cantik itu hanya bisa berdiri terpekur di ambang
jendela kamar Karin, menatap kerlap-kerlip kunang-kunang di persawahan di
seberang kali kotor di luar sana. Sayup-sayup terdengar alunan lagu dangdut
dari radio butut di warung jamu di dekat persawahan gelap itu, lumayan mengusir
kesunyian malam.
“Udah malem, Pop,” cetus Karin iba yang sedang membersihkan
tempat tidur dengan sapu lidi. “Tidur, yuk?”
Namun Poppy tidak menolehkan kepalanya sedikit pun,
apalagi menyahut. Karin lalu menyalakan obat nyamuk bakar di sudut kamar dan
setelahnya ia menghampiri jendela, tepatnya menghampiri Poppy.
“Lo tidur dulu aja, Rin. Gue masih pengen di sini…
mengenang semuanya.” Poppy berucap dengan dada bergetar. Matanya tampak jelas
berjuang keras menahan air mata.
“Mengenang apa?” tanya Karin sedih.
“Ya semuanya. Nyokap gue. Bokap gue. Adek gue. Dan
semua itu berubah semenjak nyokap gue…” Poppy tidak sanggup meneruskan
kalimatnya.
“Poppy…” Air mata tak terasa mengalir dari kedua pipi
Karin saat dengan refleks ia memeluk tubuh Poppy. Karin memang memiliki rasa
empati yang tinggi, ia gampang merasakan apa yang orang lain rasakan.
Poppy menjatuhkan air mata di bahu Karin, membuat bahu
Karin sedikit basah. Namun Karin seolah tidak merasakannya, ia justru mengelus-elus
punggung Poppy, menenangkannya.
“Jadi, sampai sekarang bokap-nyokap lo masih belum
damai...?” tanya Karin prihatin.
Karin merasakan tekanan yang berulang-ulang di
bahunya, pertanda Poppy mengangguk.
“Justru makin parah…” Poppy masih terisak. “Rumah gue
udah nggak ada lagi suasana harmonis sama sekali, Rin. Kedamaian yang dulu
pernah gue rasain, kini semuanya ilang…”
Setelah meringankan kesedihan Poppy dengan segelas air
putih, Karin akhirnya berhasil membujuknya ke tempat tidur. Mereka terlentang
berdampingan menatap langit-langit kamar, dan pada polosnya langit-langit kamar
seolah terukir bayangan tentang kisah sedih yang diuraikan oleh Poppy…
Akhir-akhir ini, Tante Lidya, mamanya Poppy, terlihat
sangat dekat dengan Om Danu, mantan kliennya di kantor. Membuat Om Arjuna,
papanya Poppy, sedikit cemburu. Dan bukannya meminta maaf, Tante Lidya malah
mencari-cari alasan dan menunjuk bahwa Om Arjuna adalah seniman egois yang
tidak pandai membagi waktu antara saat-saat untuk “ada” ketika dibutuhkan
perhatiannya, dan saat-saat untuk berkutat dengan pekerjaannya sebagai seorang
pelukis. Puncaknya, yang ditemui di rumah Poppy adalah perselisihan paham, karena
tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya.
Dan sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita karir,
Tante Lidya merasa harus tetap profesional menjalankan pekerjaannya, dia tidak
mau membawa masalah rumah tangga ke dalam pekerjaannya. Ketika di rumah dia
sudah tidak dapat menghindari pertengkaran yang memakan hati dan perasaan, dia
semakin giat menghadapi tumpukan pekerjaannya di kantor. Singkatnya, dia ingin
menghindari rasa bersalahnya dengan berbagai kesibukan.
Sementara Om Arjuna yang sangat mencintai ketenangan
di dalam rumah tangganya, merasa tidak perlu membesar-besarkan masalahnya
dengan istrinya. Hanya saja, sifatnya yang labil sering menyebabkan
pertengkaran bahkan Poppy pernah melihatnya hampir berbuat kasar.
Kini dia mencintai sekaligus membenci istrinya. Di
antara serpihan kekecewaannya sebagai seorang kepala rumah tangga, dia masih
menaruh harapan pada Poppy dan si bungsu Tobby yang masih duduk di bangku SD.
Mereka berdua-lah alasan Om Arjuna untuk memunguti serpihan kekecewaan itu,
menjadi semangat jiwa untuk menatap hari esok!
Malam sudah semakin larut dan berangsur-angsur rasa
kantuk membuat cerita Poppy menguar di udara. Pada akhirnya mereka tersembunyi
di balik lindungan selimut dan diam-diam telunjuk mama Karin menekan tombol
sakelar untuk mematikan lampu kamar.
Dalam kegelapan kamar yang disinggahi cahaya temaram
sang rembulan, Tante Kamila mengecup kening Karin dan Poppy. Saat Tante Kamila
melangkah keluar, diam-diam air mata Poppy meleleh.
***
Satu sekolah heboh. Poppy sudah seminggu tidak masuk
sekolah. Tanpa pemberitahuan, dan tanpa pesan. Guru-guru pun mengaku tidak tahu
apa-apa sehubungan dengan menghilangnya Poppy. Terlebih lagi tak ada seorang
pun yang bisa ditemui di rumah Poppy.
Bukan hanya guru-guru dan teman-teman yang panik, tapi
juga Karin dan mamanya. Karin tidak punya handphone,
jadi dapat kabar dari mana selain Poppy menunjukkan batang hidung di depannya.
“Karin! Tunggu…!” seorang cowok berlari menghampiri
Karin yang sedang berjalan murung di koridor sekolah.
Karin menghentikan langkahnya dan membiarkan cowok itu
berhenti di hadapannya. Dia adalah Sandy, cowok cool yang selama ini menjadi pujaan hati Poppy.
“Ya?” Karin mengerutkan alis.
“Lo udah tau di mana Poppy?” Sandy bertanya cemas.
Karin
menggeleng antara sedih dan sebal. Kenapa dia baru memedulikan sekarang? Kenapa
di saat keberadaan Poppy tidak diketahui ada di mana? Seandainya cowok ini tahu
betapa sakitnya Poppy memendam perasaan!
Selama ini Poppy hanya bisa menyimpan kekaguman kepada
cowok kalem ini, Karin tahu itu karena dulu Poppy pernah curhat padanya tentang
perasaannya pada Sandy. Tapi itu dulu. Poppy seperti berusaha menarik
perkataannya semenjak dengan terang-terangan Sandy menitip salam untuk Karin
melalui Poppy, dan berharap Poppy menjadi mak comblang antara dia dan Karin.
Wah, Karin masih belum bisa melupakan bagaimana merahnya wajah Poppy saat
menyampaikan salam manis untuknya dari Sandy! Karin tahu Poppy pura-pura tidak
ada apa-apa saat menyampaikan salam manis dari Sandy, tapi mata Poppy bicara,
dan gerak tubuhnya menjawab apa yang sebenarnya berkecamuk di hatinya. Melihat
kepura-puraan Poppy, justru Karin merasa tidak enak hati.
Dan sekarang, cowok ini berdiri di hadapan Karin! Demi
Tuhan, Karin tidak mengagumi cowok ini sejengkal pun dan lagipula Karin merasa
persahabatannya dengan Poppy jauh lebih berharga daripada urusan cowok semata!
“Peduli apa lo sama dia?!” Karin tidak sanggup menahan
emosinya lagi.
“Kok lo emosional gitu sih jawabnya?!” cetus Sandy
heran. “Gue cuma...” Dan sebelum Sandy menyelesaikan kalimatnya, Karin sudah meninggalkan
cowok itu dengan membawa perasaan kesal yang kurang beralasan.
Dalam hati Karin menyesal juga karena sebenarnya Sandy
toh tidak tahu tentang perasaan Poppy. Tapi biarlah, Karin merasa puas
meninggalkan Sandy yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
***
Malam harinya, di dapurnya yang mungil Karin dan
mamanya duduk berhadapan di meja makan sambil menikmati hidangan mie instan
pakai telur setengah matang. Asap mengepul-ngepul dari mangkok dan kehangatan
mie instan sanggup melawan hawa dingin yang disebarkan derasnya hujan di luar.
Sementara Widya, adik Karin yang baru menginjak usia
enam tahun, duduk di lantai menyuapi si bungsu Kamal (usianya tiga tahun) nasi
pakai sayur sop dan dua iris tempe.
Dan ketenangan itu tiba-tiba dikejutkan oleh ketukan
di pintu yang tidak terdengar keras, namun cukup untuk membuat Karin dan
mamanya bertukar pandangan menebak.
Benar saja. Begitu Karin dan mamanya menghambur ke
pintu untuk melihat siapa orang di baliknya, gadis cantik itu berdiri dengan
kondisi yang sangat memprihatinkan: Poppy. Dia menangis tersedu-sedu dan
langsung menubruk tubuh Karin dan langsung memeluknya. Di bahu Karin dia seolah
menumpahkan sekaligus membagi duka laranya. Dan untuk kesekian kalinya air mata
Poppy mampir di bahu Karin.
Dengan ikhlas dan sabar Tante Kamila membimbing Poppy
ke dapur, menyuguhkan secangkir teh manis hangat untuk meringankan
kesedihannya.
“Kalian baik banget…” tak henti-hentinya Poppy
berterimakasih sambil menghirup pelan teh manis itu dengan tangan agak gemetar.
“Kami hanya ingin meringankan bebanmu sebisa kami, Nak…”
ujar Tante Kamila. “Ceritalah apa yang ingin kauceritakan. Kami selalu membuka
lebar-lebar telinga dan hati kami…”
***
Om Arjuna, papanya Poppy, ternyata mendapat serangan
jantung dan sudah seminggu ini dia dirawat di rumah sakit. Berhari-hari Poppy
menungguinya di sisi pembaringan tanpa sesaat pun ia meninggalkan ayah
tercintanya itu.
Om Arjuna mengaku sangat terpukul karena Tante Lidya
tidak dengan terang-terangan mengaku jatuh cinta kepada Om Danu! Mendengar
cerita dari papanya, jantung Poppy berdebar diguncang kekecewaan, marah, dan
sakit hati. Ternyata ini yang dia dapat di balik kesibukan mamanya sebagai
seorang wanita karir. Perihnya!
Om Arjuna bilang, tidak apa-apa dia sudah kehilangan
cinta dari seorang wanita yang sangat dicintainya. Alasannya, dia masih
memiliki dua orang anak yang sangat dicintainya. Dan dia menaruh harapan besar
kepada Poppy dan si bungsu Tobby.
Kondisi Om Arjuna semakin membaik dan Poppy
menyelesaikan ceritanya sampai di situ, setidaknya ketika dia bercerita di
ruang makan.
“Terus?” tanya Karin tak sabaran, sesaat setelah dia
dan Poppy membaringkan tubuh berdampingan, seperti biasa menghadap
langit-langit kamar yang akan terukir cerita dari Poppy.
“Terus, ternyata ada Sandy ngejenguk bokap gue,” ujar
Poppy sumringah. “Sekarang dia yang gantian nungguin bokap di rumah sakit,
sementara gue minta ijin nginap di sini untuk ngabarin kalian, trus besok gue
udah masuk sekolah.”
“Hah? Kok bisa?” Karin mengalami dua rasa kaget
sekaligus. Pertama, kenapa Sandy tahu Om Arjuna dirawat dan menjenguknya.
Kedua, kenapa seolah ada rona bahagia yang kasat mata saat Poppy menyebut nama
Sandy!
“Semua karena ada cinta lain yang datang diam-diam,”
jawab Poppy. “Setelah sebelumnya cinta juga pergi diam-diam dalam keluarga
kami…”
“Maksudnya?”
“Karin. Sebenernya gue jahat banget sama elo. Selama
ini gue ngiri, cemburu, sekaligus terkadang mengutuk kesempurnaan lo. Di balik
kehidupan lo yang miskin–punya nyokap janda dan tukang jahit–elo hidup dalam
lingkaran cinta yang membahagiakan. Cinta yang nyokap lo punya, ditunjukin
secara terang-terangan dan tanpa ragu sama sekali. Dan ngomong-ngomong tentang
Sandy, ternyata dia…”
Poppy bercerita, kalau siang tadi Sandy menyatakan perasaannya
pada Poppy. Mereka sudah jadian! Rupanya sejak lama Sandy mengetahui perasaan
Poppy yang terpendam. Dan dia hanya ingin membuat Poppy cemburu dengan cara
selalu menyampaikan salam untuk Karin. Sampai akhirnya dia yakin tentang
perasaan Poppy dan dia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk
menyatakan bahwa dia pun juga merasakan gejolak cinta yang sama! Wah, ternyata!
“Dan satu hal lagi yang membuat gue semakin yakin
bahwa nggak ada gunanya terus-terusan bersedih...”
“Apa?” Karin semakin penasaran.
“Nyokap lo...” jawab Poppy. “Dia bilang, gue boleh panggil
dia ‘Mama’. Dia bilang gue udah kayak anak kandungnya sendiri. Dia bilang gue
boleh tidur di rumah ini kapan pun gue mau! Elo nggak marah kan…? Karin, lo
nggak marah kan…?
Bagaimana mungkin aku marah, Poppy, bisik Karin dalam
hati. Kamu adalah sahabatku dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Aku
juga tidak mau kamu hidup dalam perasaan cemburu, melihat si Karin yang miskin
ini tapi berkelimpahan cinta dari seorang ibu yang janda namun memiliki
ketegaran yang mengagumkan.
Ibuku adalah matahari yang menerangi setiap langkahku
dan mulai sekarang akan kubagi matahariku untuk menerangi hidup kita karena aku
sangat menyayangimu, Sobat. Tidurlah yang nyenyak dan aku ada di sampingmu
karena kini kita adalah saudara walau terlahir dari rahim yang berbeda.
“Apa perlu gue jawab?” balas Karin. “Yang elo perlu
malam ini adalah tidur, dan cuma mimpi indah yang harus kita dapetin malam ini….”
Dimuat
di Story Teenlit Magazine
Edisi 25 Feb - 25 Mar 2011
Edisi 25 Feb - 25 Mar 2011
Pages
Powered by Blogger.


